Pages

Jumat, 18 April 2014

Aksi Cyber Terorism di Manca Negara

Berikut adalah beberapa contoh kegiatan cyber terrorist yang pernah terjadi di manca negara yang mengancam keselamatan kehidupan manusia, antara lain :

1. Di Amerika Serikat, pada bulan Februari 1998 terjadi serangan (breaks-in or attack) sebanyak 60 kali perminggunya melalui media Internet terhadap 11 jaringan komputer militer di Pentagon. Dalam cyber attack ini yang menjadi target utama para cyber terrorist adalah Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DoD).

2. Di Srilanka, pada bulan Agustus 1997, sebuah organisasi yang bernama the Internet Black Tigers yang berafiliasi kepada gerakan pemberontakan Macan Tamil (The Liberation Tigers of Tamil Eelam) menyatakan bertanggung jawab atas kejahatan email (email bombing, email harrasment, email spoofing, etc) yang menimpa beberapa kedutaan serta kantor perwakilan pemerintah Srilanka di manca negara. Tujuan akhirnya adalah kampanye untuk melepaskan diri dari Srilanka dalam memperjuangkan kemerdekaan rakyat Tamil.

3. Di Cina, pada bulan Juli 1998, sebuah perkumpulan cyber terrorist atau crackers terkenal berhasil mengacaukan "selama beberapa waktu" sistem kendali sebuah satelit milik Cina yang sedang mengorbit di luar angkasa. Tujuan utama dari aksi ini adalah untuk melakukan protes terhadap gencarnya investasi negara barat di Cina.

4. Di Swedia, pada bulan September 1998, pada saat kegiatan pemilihan umum, sejumlah cyber terrorist berhasil melakukan kegiatan sabotase yaitu merubah (defaced) tampilan website dari partai politik berhaluan kanan dan kiri. Dimana Website links partai politik tersebut dirubah tujuannya ke alamat situs-situs pornografi sehingga sangat merugikan partai karena kampanye partao secara elektronik melalui Internet menjadi terhambat.

5. Di Indonesia sendiri, sekitar bulan Agustus 1997, cyber terrorist atau hackers dari Portugal pernah merubah (defacing) tampilan situs resmi dari Mabes ABRI (TNI), walaupun dengan segera dapat diantisipasi. Kemudian pada bulan April 2004 situs resmi milik KPU (Komisi Pemilihan Umum) juga berhasil di hack dengan defacing, namun dengan segera pelakunya yaitu seorang konsultan Teknolohi Informasi suatu perusahaan di Jakarta dapat segera diamankan oleh pihak kepolisian.

Namun sebenarnya masih banyak lagi aktivitas para cyber terrorist di negara-negara lain yang masih berlangsung hingga saat ini. Beberapa analis menyatakan bahwa kegiatan cyber terrorism dewasa ini sudah dapat dikategorikan sebagai peperangan informasi berskala rendah (low-level information warfare) dimana dalam beberapa tahun mendatang mungkin sudah dianggap sebagai peperangan informasi yang sesungguhnya (the real information warfe). Seperti contoh pada saat perang lrak-AS, disana diperlihatkan bagaimana informasi telah diekploitasi sedemikian rupa mulai dari laporan peliputan TV, Radio sampai dengan penggunaan teknologi sistem informasi dalam cyber warfare untuk mendukung kepentingan komunikasi antar prajurit serta kalur komando dan kendai satuan tempur negara-negara koalisi dibawah pimpinan Amerika Serikat. Hal ini sudah dapat dikategorikan sebagai aksi cyber warfe atau cyber information, dimana disinformasi serata kegiatan propaganda oleh pasukan koalisi menjadi salah satu bukti peruntuh moril pasukan Irak.

0 komentar:

Posting Komentar